Tradisi anjangsana kerap dianggap basa-basi oleh banyak institusi. Namun tidak bagi Polres Nganjuk. Dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80, mereka membalik logika itu. Kapolres AKBP Suria Miftah Irawan dan jajaran justru menjadikan momen ini sebagai terapi kolektif bagi anggota aktif dan purnawirawan yang menderita sakit menahun, Jumat (5/6/2026). Bahkan para Warakawuri pun mendapatkan kunjungan hangat yang membuat hati tersentuh.
Perjalanan rombongan menyusuri jalan kampung itu penuh makna. Mereka membawa bingkisan sembako, tetapi yang terutama adalah energi positif. Kapolres dengan lantang mengatakan bahwa tujuan utama bukanlah bagi-bagi barang, melainkan memberikan dukungan moril. "Kami ingin mereka tetap optimis dan tidak merasa berjuang sendirian di hari Bhayangkara ini," tegasnya. Kata-kata itu lebih ampuh dari obat penenang bagi mereka yang terbaring lemah.
Satu lokasi yang menjadi sorotan adalah rumah AIPTU April Iswandono di Loceret. Pria yang sedang sakit itu mengaku kunjungan Kapolres dan Ketua Bhayangkari membuatnya menangis haru. "Kehadiran beliau-beliau menjadi penyemangat bagi saya untuk tetap optimis menjalani pengobatan," ungkapnya terbata-bata. Sang istri pun tak kuasa menahan tangis saat Ny. Raisha Suria Miftah memeluknya dan berpesan agar sabar mendampingi proses penyembuhan.
Kegiatan yang berlangsung penuh keheningan itu akhirnya menggema lebih keras dari drumb band mana pun. Anjangsana ini berhasil merajut kembali silaturahmi yang sempat renggang karena kesibukan. Polres Nganjuk ingin dunia tahu bahwa kebesaran institusi diukur dari seberapa baik mereka memperlakukan para pahlawannya yang sedang rapuh. Itulah esensi Bhayangkara yang sesungguhnya.(Avs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar