Kemarau Datang, Bhabin Sanggrahan Gali Informasi dari Petani: Jadikan Kearifan Lokal sebagai Senjata - RADAR KOTA ANGIN

RADAR KOTA ANGIN

BERITA HARIAN SEPUTAR NGANJUK

test banner

Breaking

Home Top Ad

asolole

Minggu, 07 Juni 2026

Kemarau Datang, Bhabin Sanggrahan Gali Informasi dari Petani: Jadikan Kearifan Lokal sebagai Senjata


Nganjuk - Tidak semua solusi untuk menghadapi kemarau harus datang dari teknolog modern atau bantuan pemerintah pusat. Terkadang, jawabannya sudah ada di dalam kearifan lokal petani yang diwariskan turun-temurun. AIPTU Sugeng, Bhabinkamtibmas Desa Sanggrahan, Kecamatan Wilangan, memahami betul hal ini. Pada Senin (8/6/2026), saat memantau lahan jagung sebagai penggerak ketahanan pangan, ia tidak hanya mengandalkan pengetahuannya sendiri. Sebaliknya, ia justru banyak menggali informasi dari para petani: bagaimana cara kakek mereka dulu menjaga sawah saat kemarau panjang? Apa yang dulu dilakukan agar jagung tetap bisa panen meski air sangat terbatas? Kearifan lokal itu kemudian ia catat, rangkum, dan sebarkan kembali ke petani lain yang mungkin belum mengetahuinya.

AKBP Suria Miftah Irawan, Kapolres Nganjuk, menekankan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal sering kali lebih efektif daripada solusi yang datang dari luar karena sudah teruji oleh waktu dan sesuai dengan kondisi setempat. “Polri melalui Bhabinkamtibmas terus hadir mendampingi masyarakat untuk membantu mengidentifikasi kendala pertanian sekaligus memperkuat koordinasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional,” ujar AKBP Suria. Di Sanggrahan, kearifan lokal yang ditemukan antara lain adalah penggunaan daun-daunan tertentu untuk menutup permukaan tanah agar tidak cepat kering, serta sistem giliran air yang sudah diatur secara turun-temurun berdasarkan kesepakatan desa.

Di lapangan, AIPTU Sugeng duduk melingkar bersama para petani di bawah pohon rindang dekat lahan jagung. Sambil menikmati angin sore, mereka berbagi cerita tentang musim kemarau tahun-tahun sebelumnya: apa yang berhasil, apa yang gagal, dan apa yang seharusnya dilakukan lebih awal. Dari obrolan itu, muncullah ide-ide sederhana namun brilian, seperti membuat embung-embung mini di lahan tidur, memanfaatkan eceng gondok yang difermentasi sebagai pupuk organik yang juga bisa menahan air, dan menanam tanaman peneduh di pinggir lahan untuk mengurangi penguapan. AIPTU Sugeng mencatat semuanya dengan penuh semangat, berencana untuk menuangkannya dalam buku panduan sederhana untuk petani di seluruh desa.

AKP Muh. Fatoni, Kapolsek Wilangan, menegaskan bahwa kearifan lokal tidak boleh ditinggalkan hanya karena zaman berubah. Justru, ia harus diintegrasikan dengan pendekatan modern untuk hasil yang optimal. “Kami berharap koordinasi antara petani dan pihak terkait dapat berjalan baik sehingga kebutuhan air untuk lahan pertanian tetap terpenuhi dan produktivitas tanaman tetap terjaga,” ujar AKP Muh. Fatoni. Dari lahan jagung Sanggrahan, AIPTU Sugeng membawa pulang puluhan catatan kearifan lokal yang sebelumnya hampir terlupakan. Dan yang lebih penting, para petani yang terlibat dalam dialog merasa bangga karena pengetahuan mereka dihargai. Kemarau mungkin datang setiap tahun, tetapi dengan senjata kearifan lokal yang digali dan disebarkan oleh Bhabinkamtibmas, mereka merasa lebih siap dari sebelumnya.(Avs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cegah Judi Online, Polri Gandeng UPH dan Komdigi Edukasi Mahasiswa di Tangerang

Tangerang- Maraknya judi online dan pinjaman online ilegal di kalangan generasi muda mendorong Polri menggelar program Polri Goes to Campus ...

Post Bottom Ad