Ketika jembatan lama di Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo ambruk diterjang banjir, warga Desa Tiris dan Andungsari mendadak terisolasi. Aktivitas ekonomi macet, anak-anak kesulitan bersekolah, dan hasil pertanian membusuk karena tak bisa diangkut. Namun Selasa (28/4/26) menjadi titik balik: Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif meresmikan Revitalisasi Jembatan Merah Putih Presisi Polres Probolinggo, membuka kembali jalur yang sempat terputus. Peresmian ini dihadiri Muspika, kepala desa, para pejabat utama Polres, serta warga yang tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia.
AKBP Latif dalam sambutannya tak hanya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung pembangunan, tetapi juga menekankan bahwa jembatan ini adalah nadi penghubung antar desa. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya, kerusakan infrastruktur akibat bencana alam banjir membuat masyarakat harus memutar jalan sangat jauh atau mengambil risiko menyeberang melalui jalur darurat yang berbahaya. Dengan hadirnya jembatan baru yang kokoh, waktu tempuh antar desa yang semula bisa berjam-jam kini kembali normal, dan pasokan logistik dari luar pun bisa masuk dengan lancar ke daerah yang sempat terisolasi.
Kapolres Probolinggo juga menyampaikan pesan penting kepada seluruh masyarakat yang hadir: jembatan ini adalah milik bersama, dan keberlangsungan manfaatnya sangat bergantung pada kesadaran kolektif dalam merawatnya. Ia mengajak warga untuk tidak membiarkan sampah menumpuk di sekitar struktur jembatan, melaporkan segera jika ada tanda-tanda kerusakan, serta menjadikan jembatan ini sebagai simbol kebersamaan antara Polri dan rakyat. Pesan ini langsung disambut dengan tepuk tangan dan ikrar lisan dari para tokoh masyarakat yang hadir, berjanji akan membentuk tim ronda rutin untuk memeriksa kondisi jembatan.
Dengan berfungsinya kembali jembatan Merah Putih Presisi ini, terlihat nyata bagaimana sinergi antara Polres Probolinggo, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu menghasilkan karya konkret yang langsung dirasakan manfaatnya oleh warga. Jembatan ini bukan sekadar beton dan besi, melainkan penghubung harapan yang sempat patah. Kini, petani Andungsari bisa kembali membawa hasil bumi ke pasar Tiris, anak-anak bisa pergi ke sekolah tanpa rasa takut, dan jika banjir datang lagi, setidaknya ada jembatan yang berdiri kokoh sebagai garis pertahanan terakhir akses kemanusiaan.(Avs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar