Sistem layanan darurat 110 kembali membuktikan efektivitasnya dalam Operasi Ketupat Semeru 2026. Minggu malam (22/3/2026), sebuah laporan tentang seorang wanita tunarungu dan tunawicara yang tersesat di Desa Sidolaju, Kecamatan Widodaren, diterima oleh call center Polres Ngawi. Tak butuh waktu lama, personel Pos Terpadu Monumen Soerjo segera dikerahkan ke lokasi untuk memberikan pertolongan.
Iptu Agus Harianto, Perwira Pengendali Polres Ngawi, menjelaskan bahwa koordinasi yang cepat antara call center dan personel lapangan menjadi kunci keberhasilan penanganan kali ini. Begitu laporan masuk, petugas langsung bergerak tanpa menunggu lama. Di lokasi, mereka menemukan seorang pemudik dengan keterbatasan fisik yang kesulitan berkomunikasi karena kondisinya yang tunawicara. Meskipun demikian, petugas tidak gentar dan terus berupaya mencari cara untuk membantu.
Kesabaran dan pendekatan humanis akhirnya membuahkan hasil. Petugas berhasil memahami arah yang dituju oleh wanita tersebut dan memutuskan untuk mengantarkannya langsung demi keselamatan. Kapolres Ngawi AKBP Prayoga Angga Widyatama menegaskan bahwa seluruh personel yang bertugas di pos pengamanan dan pos pelayanan telah diinstruksikan untuk selalu responsif terhadap setiap laporan yang masuk, terutama yang menyangkut keselamatan jiwa.
Kisah ini menunjukkan bahwa pelayanan kepolisian dalam Operasi Ketupat Semeru 2026 tidak hanya bersifat reaktif tetapi juga proaktif dalam memastikan setiap pemudik merasa aman. Sistem yang terintegrasi antara call center, posko, dan personel lapangan menjadi fondasi utama dalam memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat. Bagi mereka yang melintas di wilayah Ngawi, nomor 110 bukan sekadar angka, melainkan harapan yang siap direspons kapan saja.(Avs)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar