Jakarta- Di balik kilau keuntungan besar dari ekspor batu bara, ada jutaan rumah tangga dan pelaku industri yang harus gigit jari akibat pemadaman listrik bergilir. Fenomena inilah yang kini menjadi panggung keprihatinan Fahmy Radhi, pengamat energi dari UGM, yang dengan lantang mendukung penyidikan Kortas Tipidkor Polri atas dugaan pelanggaran DMO. Baginya, kasus ini bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan persoalan keadilan sosial yang menghantam masyarakat kecil yang tidak punya pilihan selain menyalakan lilin di malam hari.
Jakarta- Fahmy menjelaskan bahwa sektor industri memang masih bisa bertahan dengan genset, tetapi biaya operasional yang melonjak pada akhirnya akan membebani harga barang dan daya beli konsumen. Sementara untuk rumah tangga, pemadaman adalah kemunduran peradaban yang memaksa mereka beradaptasi dengan cara-cara primitif di tengah kemajuan teknologi. Ia menilai pengusaha yang lebih memilih ekspor ketimbang memenuhi DMO telah melakukan pengkhianatan terhadap amanat konstitusi, karena mengabaikan hak rakyat atas energi yang terjangkau dan andal.
Jakarta- Dalam pandangannya, Kortas Tipidkor Polri perlu bergerak tanpa kompromi untuk membongkar praktik-praktik yang selama ini luput dari pengawasan. Ia mendorong aparat untuk menjatuhkan sanksi berat, mulai dari denda besar, pembekuan akses ekspor, hingga pencabutan izin usaha bagi pelanggar berat. Fahmy menekankan bahwa efek jera adalah kunci agar tidak ada lagi perusahaan yang berani mempermainkan pasokan domestik di masa depan, karena stabilitas kelistrikan adalah urusan mati-hidup bagi roda perekonomian nasional.
Jakarta- Lebih jauh, Fahmy mengajak pemerintah untuk merevolusi sistem pengawasan DMO dengan teknologi digital yang dapat memonitor setiap ton batu bara yang keluar dari mulut tambang. Dengan begitu, tidak ada celah bagi pelaku usaha untuk bermain mata dalam melaporkan produksi dan penjualannya. Kombinasi antara penegakan hukum yang tegas dan inovasi tata kelola inilah yang akan mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan bahwa listrik tetap menyala untuk semua, bukan hanya untuk mereka yang bermodal besar.(Avs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar