Di kawasan hutan Tuban, hampir 90 persen petani menanam jagung. Sabtu lalu, Presiden Prabowo hadir dalam panen raya serentak sekaligus meresmikan 10 gudang ketahanan pangan Polri dan 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Kehadiran ini disambut meriah, namun bagi Ketua Kelompok Tani Hutan Wono Lestari, Sudarlim, ada pesan penting yang ingin disampaikan: jangan lupakan petani hutan.(Avs)
Sudarlim mengaku senang dengan makin membaiknya akses pupuk dan turunnya harga. Namun ia menekankan bahwa petani hutan seringkali berada di luar pusat perhatian. Fasilitas pascapanen seperti mesin pengering adalah kebutuhan mendesak, karena tanpa itu, hasil panen sulit masuk ke Bulog dan harga jual pun tak optimal. "Kami ingin perhatian yang setidaknya sama dengan petani di luar kawasan hutan," ujarnya tegas.(Avs)
Di sisi lain, harga jagung yang kini mencapai Rp6.200 per kilogram menjadi kabar baik yang dirasakan semua petani. Namun kekhawatiran akan gagal panen akibat minimnya irigasi masih menghantui. Sudarlim berharap pemerintah dapat membangun sumur dalam atau sistem pengairan lain, sehingga frekuensi tanam bisa meningkat dan risiko kerugian berkurang secara signifikan.(Avs)
Optimisme tetap menyala di hati Sudarlim. Ia meyakini program swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo akan membawa perubahan nyata. Di akhir perbincangan, ia memanjatkan doa agar pemimpin negeri ini selalu sukses menjaga zamrud khatulistiwa. "Itu anugerah terbesar," katanya penuh haru, menutup harapan petani hutan Tuban akan masa depan yang lebih adil.(Avs)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar