Jaringan scamming internasional yang dibongkar Polrestabes Surabaya ternyata memiliki taktik unik: sangat mobile dan cepat berpindah lokasi. Kombes Pol Luthfi Sulistiawan mengungkapkan bahwa setelah timnya menggerebek lokasi pertama di Dharma Husada Permai, Surabaya, para pelaku sudah bergerak meninggalkan tempat lain seperti kawasan Embong Kenongo dan Dharma Permai. Bahkan, di Solo, polisi hanya menemukan 24 koper kosong yang ditinggalkan sebagai bukti perpindahan massal.
Kasus ini bermula dari laporan Konsulat Jepang di Tokyo tentang dua warga Jepang yang hilang dan diduga disekap. Setelah menyelamatkan kedua korban di Surabaya, polisi menemukan fakta lebih besar: lokasi tersebut bukan sekadar tempat penyekapan, melainkan pusat aktivitas penipuan digital. "Dari lokasi awal, kami menemukan indikasi kuat bahwa tempat ini adalah bagian dari pusat aktivitas penipuan digital yang terhubung dengan jaringan lintas negara," jelas Kombes Luthfi.
Pengembangan ke Bali akhirnya membuahkan hasil. Total 44 pelaku diamankan dengan komposisi 30 warga China, 7 warga Taiwan, 4 warga Jepang, dan 3 warga Indonesia. Kombes Luthfi menyebut jaringan ini bekerja sangat profesional dengan sistem operasi tertutup. Mereka memanfaatkan rumah kontrakan sebagai markas sementara dan cepat pindah jika terdeteksi. Hal ini menyulitkan pengungkapan, namun tim kepolisian berhasil melacak pergerakan mereka hingga ke luar Surabaya.
Polrestabes Surabaya kini menggandeng berbagai instansi seperti Divhubinter Polri, Interpol, Imigrasi, Kejaksaan Negeri Surabaya, dan Konsulat Jenderal Jepang. Pengungkapan ini menjadi peringatan bahwa jaringan scamming internasional terus berinovasi dalam menyembunyikan jejak. Polisi berjanji akan terus mengejar jaringan yang masih bebas dan melindungi korban-korban berikutnya.(Avs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar