Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, menjadi pusat perhatian pada Jumat (1/5/2026) saat Polres Nganjuk menggelar pengamanan khusus peringatan Hari Buruh Internasional. Yang membuat berbeda adalah fokus utama bukan pada pabrik atau jalan raya, melainkan makam Pahlawan Nasional Marsinah, sosok yang dihormati sebagai ikon perjuangan hak-hak buruh Indonesia. Polres Nganjuk tidak hanya menyiagakan ratusan personel yang diawali dengan apel siaga di lapangan apel Polres, tetapi juga mendirikan dua tenda lapangan di sekitar area makam. Tenda ini disediakan untuk para peziarah yang ingin berteduh dari cuaca panas atau hujan, sebuah inisiatif yang menunjukkan bahwa keamanan dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan. Langkah ini diambil menyusul gelar Pahlawan Nasional yang diberikan Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025, yang diprediksi akan memicu lonjakan peziarah dari berbagai daerah.
AKBP Suria Miftah Irawan, S.H., S.I.K., M.I.K., Kapolres Nganjuk, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya memikirkan aspek keamanan semata, tetapi juga pelayanan agar para peziarah merasa nyaman. Menurutnya, kedatangan rombongan buruh, baik dari lokal Nganjuk maupun dari luar wilayah, harus disambut dengan pengamanan yang humanis. "Karena itu kami siapkan personel untuk menjaga keamanan dan ketertiban, sekaligus memberikan pelayanan terbaik," ujarnya. Pendirian tenda menjadi simbol bahwa Polres Nganjuk siap menjadi tuan rumah yang baik bagi siapa pun yang datang untuk menghormati Marsinah, terutama di momen May Day yang sarat dengan nilai perjuangan kelas pekerja.
Kabag Ops Polres Nganjuk, KOMPOL Ondik Andrianto, S.H., memaparkan bahwa personel telah ditempatkan di beberapa titik strategis untuk memantau lalu lintas dan pergerakan peziarah. Mulai dari jalur masuk Sukomoro, simpang penghubung, area parkir, hingga sekitar makam, semuanya dijaga ketat namun tetap ramah. "Selain pengaturan lalu lintas dan pengamanan, keberadaan tenda lapangan ini juga sebagai bentuk kepedulian Polres Nganjuk," terangnya. Dengan persiapan matang, diharapkan tidak ada kemacetan panjang atau ketidaknyamanan lain yang mengganggu kekhusyukan ziarah. Para peziarah pun bisa beristirahat sejenak di tenda sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Peringatan May Day 2026 di Nganjuk kemudian meninggalkan cerita berbeda: tidak ada bentrok, tidak ada ketegangan, yang ada adalah kebersamaan di bawah tenda biru milik Polres. Kapolres berharap bahwa apa yang dilakukan jajarannya menjadi contoh bagi daerah lain bahwa pengamanan aksi buruh bisa dikemas dengan pendekatan kemanusiaan. Ke depan, Polres Nganjuk berencana menjadikan fasilitas serupa sebagai standar pada setiap momen ziarah besar, tidak hanya saat May Day. Dengan semangat kepedulian, Polri ingin menunjukkan bahwa melindungi masyarakat juga berarti melayani mereka yang sedang berduka atau berziarah, menjadikan Marsinah tidak hanya dikenang sebagai pahlawan, tetapi juga sebagai perekat antara buruh dan aparat.(Avs)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar